sumber google

Harus ku Syukuri atas anugerah perjalanan hidup ini. setelah saya amati ternyata putra pertamaku sudah beranjak untuk memasuki masa remaja, atau dengan kata lain puber. bingung juga nih mesti bagaimana kami sebagai orangtua dalam menyikapinya demi mengantar dia menuju masa remaja yang positif, yahh memang kata orang orang ‘ ada gading yang retak ‘ mungkin artinya kurang lebih tidak ada yang sempurna gitu. tapi belum terlambat rasanya jika esok hari kami harus memandang dia bukan seorang anak anak lagi, hormati dia layaknya  sebagai individu yang kelak nantinya akan menjadi Khalifah dimuka bumi ini, itu baru sebagian tips dari  ibu  Rr Anita W, S.Psi.

Menghadapi anak yang mulai memasuki usia puber kadang memang sulit ditebak kemauannya, Mungkin ekstrimnya tiba-tiba anak berubah menjadi sosok yang tidak dikenal, perilaku manisnya tiba-tiba berubah drastis . Wajar memang jika awal pubertas kesabaran orangtua seringkali diuji oleh perilaku anak yang tidak dapat diterima. jadi ayo kita sebagai ortu harus tingkatkan lagi ke’sabar’annya.

Menurut apa kata pakar lagi nih Sebenarnya hal yang baik bagi para ortu lakukan jika anak menunjukkan perilaku yang tidak baik adalah orang tua mesti melakukan intropeksi, namun jika intropeksi tersebut kemudian memberi kesimpulan bahwa perilaku tersebut akibat faktor keturunan maka saya termasuk yang tidak menyetujui paradigma tersebut, karena perilaku yang tidak baik tidak diturunkan secara genetik. betul,

Sedangkan perilaku anak  yang cenderung mulai tidak  semanis dulu, nampaknya lebih dipengaruhi oleh fase kehidupan yang baru dimasukinya. Awal pubertas memang ditandai dengan perubahan-perubahan baik secara fisik maupun mental. Dan perubahan-perubahan tersebut biasanya memang berpengaruh terhadap perilakunya. yang dulu mudah untuk menyuruhnya sekarang menjadi sulit, hal ini wajar sebagai bagian dari perkembangan proses berpikirnya juga.

Oleh karena itu menghadapi anak yang sudah puber jelas juga menuntut perubahan pada pola asuh kita kepada anak. Orang tua sebaiknya dapat menyesuaikan diri dengan perubahan yang dialami anaknya. Anak puber sudah tidak lagi dapat diperlakukan sebagaimana anak-anak yang lebih mudah untuk diperintah dan diarahkan.

Perubahan di masa puber menyebabkan emosinya tidak stabil sehingga membentuk sikap anak yang cenderung emosional. Sedangkan perilaku anak sebagian besar lebih disebabkan oleh emosi, sehingga untuk merubah perilaku sebaiknya juga memahami emosi yang menjadi motivasinya berperilaku. Oleh karena itu untuk membantu anak mengatasi masalahnya di masa puber, orang tua perlu memperhatikan kebutuhan anak untuk didengar dan diterima.

Mulai sekarang kita harus lebih giat belajar lagi nih untuk lebih memahami anak dengan cara menjadi orang yang bisa dipercaya olehnya,bisa mendengarkan perasaannya, setelah memahami emosi yang melatarbelakanginya barulah mengajaknya berpikir dan mengajarkannya proses pengendalian diri untuk merubah perilakunya yang tidak dapat diterima.

Ketika anak sudah bicara dengan orang lain tentang apa yang dirasakannya, dan tidak langsung terbuka kepada orang tuanya, maka perlu diwaspadai. Mungkin saja selama ini anak berperilaku negatif sebagai luapan dari tumpukan perasaannya terhadap sikap orang tua kepadanya, namun karena merasa tidak didengarkan maka keluarlah dalam bentuk perilaku tersebut. Jika demikian orangtua pun perlu membicarakan secara terbuka dengan anak dan intropeksi terhadap pola asuh kita selama ini.

mudah mudahan kita semua para ortu  mendapat nilai 90  kembali  dalam ujian kali ini.   amiin

 

 

sumber artikel: eramuslim